Sebuah anugerah besar, ketika Allah Ta’ala menghadiahkan kepada kaum adam seorang istri sholehah di rumahnya yang berselimut kesejukan saat mata memandang.
Sayidina Sa’ad bin Abi Waqqas -radhiallahu ‘anhu- berkata:
من سعادة المرء المرأة الصالحة والمسكن الصالح والمركب الهنيء، ومن شقاوة المرء المرأة السوء والمسكن السوء والمركب السوء.1
“kebahagian seseorang adalah: istri yang baik (sholehah), tempat tinggal yang baik, kendaraan yang nyaman, dan kesengsaraannya adalah: istri yang buruk (tidak sholehah), tempat tinggal yang buruk, kendara’an yang buruk”.
Istri sholehah adalah hadiah surgawi bagi para suami, sebagaimana ibunda Hawa adalah hadiah terindah bagi ayahanda Adam saat dia gundah di dalam surga -alaihima salam-.
Istri sholehah selain obat untuk hati yang gelisah, tabib bagi jiwa yang butuh cinta dan mata airnya kasih sayang, dia adalah obat Ketika fisik mulai terasa sakit.
Sayidina Ali bin Abi Thalib -radhiallahu ‘anhu- berkata:
إذا شكا أحدكم بطنه فليسأل امرأته شيأ من صداقها ويشتري به عسلا ويشربه بماء السماء فيجتمع له الهنيء المريء والشفاء والمبارك2
“Apabila di antara kalian ada yang merasa sakit di perutnya, maka mintalah kepada istrinya sedikit dari uang maharnya, kemudian belilah dengan uang tersebut madu, dan minumlah dengan campuran air hujan, dengan seperti itu telah berkumpul bagi dirinya: kepuasan, kesenangan, kesembuhan, dan keberkahan.”.
Adapun kepuasan dan ketenangan dia dapatkan dari mahar sang istri yang diberikan dengan keridhoan, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“kemudian, jika mereka (istri) menyerahkan kepada kamu Sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (terimalah) dengan kepuasan dan ketenangan (hani’an mari’an)”. QS. An- Nisa: 4
Adapun kesembuhan dia dapatkan dari madu yang Allah Ta’ala mensifatinya sebagai obat, Allah Ta’ala berfirman: “di dalamnya (madu) ada kesembuhan bagi manusia”. QS. An Nahl: 69
Adapun keberkahan dia dapatkan dari Air hujan, Allah Ta’ala berfirman: “dan kami turunkan dari langit air yang diberkahi”. QS. Qaf: 9
Inilah resep dari sang pintu gerbang ilmu, sayidina Ali bin Abi Thalib -radhiallah ‘anhu- untuk para suami yang sedang sakit.
Sayyid Murtadho Zabidi -rahimahullahu- juga punya resep yang mirip dengan resep kakeknya di atas, beliau mengatakan:
وكان بعض مشايخنا يأمر بكتابة سورة الفاتحة في إناء نظيف بماء ورد وزعفران يمحى بماء المطر ثم يمزج به ذلك العسل المشترى من دراهم الصداق فيشربه المريض إن كان الوجع في الباطن أو يمسح به موضع الألم إن كان ظاهرا وكان يقول هذا من المجربات.3
“Sebagian dari guru kami memerintahkan agar menulis surat Al Fatihah di wadah yang bersih dengan air bunga (mawar) dan za’faron (sefron), kemudian dituangi air hujan, setelah itu dicampur madu yang dibeli dengan uang mahar tadi, lalu diminum apabila sakit ada di perut, kalau sakitnya daerah luar maka diusapkan pada area yang sakit, dan guru kami mengatakan hal tersebut sudah terbukti”.
Beginilah bagaimana para sahabat dan ulama mentadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala, sehingga hadir resep buat para suami yang sedang sakit dengan mengumpulkan kebaikan-kebaikan bersumber dari wahyu:
- Mahar yang dimiliki istri sholehah (Kesenangan dan kepuasan)
- Madu (kesembuhan)
- Air hujan (keberkahan)
Wallahu Ta’ala A’lam bi Showab
Referensi:
- Ibnu Hajar Asqalani, Fathul bari, 6/74, tahqiq: Abdul Qadir Al Hamd.
- Ithaf sadah muttaqin bi syarhi ihya’ ulumiddin, 6/297, Sayid Murtadho Az Zabidi.
- Ithaf sadah muttaqin bi syarhi ihya’ ulumiddin, 6/297, Sayid Murtadho Az Zabidi.
Rejoyo santoso, Lc
admin

